
Senin, 9 Februari 2009, cuaca di Kota Bogor nampak masih terlihat sedikit mendung. Namun, cuaca hari itu bisa dikatakan sangat berbeda dari hari-hari sebelumnya yang terus menerus hujan. Apakah karena hari itu juga bertepatan dengan Cap Go Meh – puncak perayaan Tahun Baru Imlek yang biasanya jatuh pada hari 15 bulan 1 tahun penanggalan Tiongho – atau mungkin memang secara kebetulan saja cuaca saat itu di Kota Bogor memang menjadi sedikit lebih cerah.
Namun, lepas dari hubungan sebab akibat tersebut di atas, yang pasti hari Senin sore itu sepanjang jalan Suryakencana telah dipenuhi oleh ribuan manusia. Semuanya berkumpul untuk ikut menyaksikan kemeriahan acara Cap Go Meh. “BOGOR BERSATU DALAM KERAGAMAN BUDAYA”, itulah tema yang diambil dalam peringatan yang berlangsung untuk yang ke 5 kalinya ini semenjak masa reformasi. Acara ini seperti halnya acara budaya dan kesenian etnis Tionghoa lainnya memang sempat mati suri ketika masa-masa orde baru berkuasa. Namun, semenjak masa reformasi berbagai atraksi kesenian dan budaya yang telah membaur dengan kesenian dan budaya Indonesia kini telah menggeliat kembali, seperti halnya di Kota Bogor.
Festifal Cap Go Meh 2009 ini benar-benar menjadi arak-arakan budaya yang meriah. Selain atraksi kebudayaan Tionghoa seperti tarian liong dan barogn, juga tampil atraksi budaya Sunda , seperti Angklung Gubrak. Ada juga Tari Kecak dari Pura Parahyangan Jagadkartha atau Pura Gunung Salak. Kemudian iring-iringan para jajaka dan mojang Kota Bogor yang masing-masing mengenakan pakaian adat sunda. Tidak ketinggalan rombongan sepeda tua lengkap dengan pakaian tempo dulunya. Dan tentu saja rombongan drum band para pelajar. Yang menarik dalam rombongan karnaval budaya tersebut juga terlihat beberapa orang asing yang ikut serta di dalamnya. Bule-bule tersebut bukan hanya menyaksikan, namun itu membaur dalam atraksi budaya tersebut,
Arak-arakan atraksi budaya dimulai dari depan Vihara Dhanagun yang telah berusian sekitar 337 tahun. Selain dari depan Vihara, beberapa rombongan kesenian berkumpula di depan gerbang Kebun Raya Bogor yang letaknya hanya beberapa meter dari Vihara Dhanagun. Arak-arakan kesenian dan budaya dimulai bergerak mulai pukul 16.30 WIB. Inilah yang membedakan perayaan Cap Go Meh di Kota Bogor dengan wilayah lainnya di Indonesia yaitu berlangsung sore hari dan akan berakhir menjelang tengah malam.
Liong atau naga sepanjang 50 meter menjadi salah satu daya tarik yang unik dalam perayaan ini. Liong tersebut meliuk-liuk dengan lincah di sepanjang jalan Suryakencana hingga Vihara Buddhasena di jalan Batu Tulis. Ketika hari mulai gelap sepanjang tubuh liong tersebut pun menyala dan bersinar oleh deretan lampu-lampu yang berada di dalamnya.
Berbagai patung dewa-dewi ditandu menggunakan joli dengan berbagai hiasan yang diangkat beramai-ramai oleh perwakilan vihara Bogor dan sekitarnya. Bahkan perwaklian vihara dari wilahah Ungaran, Jawa Tengah turut hadir memeriahkannya. Bunyi-bunyian berbagai alat tetabuhan dan atraksi barongsai serta liong berbagai warna dan ukuran mengiringi iring-iringan joli. Yang menarik sepanjang jalan joli terus di goyang-goyang mengikuti irama musik yang keluar dari tetabuhan.
Sore hingga malam hari itu sepertinya Kota Bogor benar-benar berpesta. Warga dari berbagai golongan, etnis, agama dan ras semua berbaur bersatu melupakan segala perbedaan yang ada. Menjelang tengah malam seiring berakhirnya kemeriahan Bogor Street Festifal, Cap Go Meh 2009, hujan pun kembali turun. Namun, “Bogor Bersatu Dalam Keragaman Budaya” semoga akan menjadi dampak yang lebih luas “Indonesia Bersatu Dalam Keragaman Budaya”
Bogor, 10 Februari 2009
Foto-foto lihat di :
http://mahameruadventure.multiply.com/photos/album/31






