Jumat, 14 Agustus 2009

AKU BUKAN PAHLAWAN



AKU BUKAN PAHLAWAN


Aku bukan pahlawan
yang aku tahu memang aku harus ada disana
yang aku tahu hati dan jiwaku sudah disana
yang aku tahu saudaraku membutuhkanku disana
yang aku tahu penjuru negeri dalam negaraku telah tergoncang
yang aku tahu lautan luas telah mengoyak sebagian negara ku

Pagi itu, 26 Desember 2004
Bagian barat untaian negaraku tergoncang dahsyat
Kiamat telah melanda negeri Cut Nyak Dien
Manusia, hewan dan benda-benda bergetar keras
Gempa bumi berkekuatan 8,9 skala richer menghancurkan serambi mekah
Dalam kebingungan dan kealpaan gelombang air laut datang menghampiri

Gelombang tsunami coba habiskan yang tersisa
Dalam sekejap “Cut Nyak Dien” berlinang air mata
Ratusan ribu anak cucunya mati dan hilang
Ratusan ribu tubuh-tubuh tak bernyawa teronggok kaku
Negeri yang subur telah rata kembali dengan tanah

Allah Akbar
Dosa apa yang telah diperbuat bangsaku
Kesalahan apa yang telah diperbuat para pemimpinnya?
Doa apa yang dilupakan bangsaku?
Kesombongan, keserakahan atau perkelahian-kah yang membuat-Mu menegur kami?
Atau adakah Engkau akan menaikkan derajat bangsa kami?
Kami menyerahkan sepenuhnya kepada-Mu

Ada tangisan air mata yang mengalir
Ada tangisan air mata yang mengering
Ada tangisan air mata yang berdarah
Ada kehilangan yang dikasihi
Ada kehilangan yang teramat
Ada kehilangan yang tercampakkan
Ada kehilangan yang akan terukir

Aku bukan pahlawan
Karena aku bukan Cut Nyak Dien
Karena aku bukan Teuku Umar
Karena aku bukan Laksamana Hayati
Karena aku bukan pula Teuku Cik Di Tiro
Karena aku hanyalah seorang anak bangsa

Dipenghujung tahun 2004 ujung banda telah hancur
Gempa dan gelombang tsunami meluluh lantakkan untauian ujung negara ku
Dalam kealpaan yang panjang bangsaku terbangun
Getaran di ujung banda menggetarkan seluruh nurani bangsaku
Serentak dari seluruh penjuru negeri bergerak dan bersatu
Bahu membahu tuk membantu
Keluarkan apa yang ada untuk saudaraku di ujung banda
Walaupun itu hanya sekeping uang logam seratus rupiah
Sejenak melupakan pertikaian yang panjang
Sejenak melupakan perbedaan yang ada
Sejenak melupakan permasalahan diri sendiri
Sejenak melupakan para elite politik yang bersaing
Sejenak melupakan pikiran yang lupa bahwa memang kita bersaudara
Sejenak tuk merajut kembali tali persaudaraan yang mulai hilang

Aku bukan pahlawan
Yang aku tahu aku sudah berada disana
Yang aku tahu aku harus berbuat sesuatu untuk saudaraku
Yang aku tahu negeri tempatku berpijak bisa berlaku seperti halnya di ujung banda
Yang aku tahu saudaraku di Aceh akan berlaku seperti halnya diriku
Yang aku tahu saudaraku di penjuru negeri juga berlaku seperti halnya diriku

Aku bukan pahlawan
Karena aku hanya menunaikan hak saudaraku
Karena aku bagian dari saudaraku
Karena aku hanyalah seorang anak bangsa

Aku bukan pahlawan
Karena aku bukan Cut Nyak Dien
yang berjuang membebaskan bangsanya dan rela mati terkubur di pembuangan
Karena aku bukan Laksamana Hayati
seorang laksamana laut wanita gagah berani mengusir penjajah bangsanya
Karena aku bukan Teuku Umar ataupun Teuku Cik Di Tiro
para pemimpin bangsanya yang jujur, berani dan selalu menjadi teladan

Aku bukan pahlawan
Karena aku hanya bagian kecil dari negera ini
Karena aku memang hanya seorang anak bangsa


Desember, 2005
(Aceh, dalam kenangan)
Didedikasikan untuk para relawan dimanapun berada atas ketulusan, panggilan jiwa dan rasa persaudaraan yang terus tersemai di bumi pertiwi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar